Tulis
dan Tulis Saja
Dewi Nur Utami Fithria
(Refleksi Kegiatan Pertama Tala Writing Supercamp)
Semua
dimulai saat IPTL membuka TALA WRITING SUPERCAMP, hari itu tanggal 10 Juni 2021
saya bergabung melalui tautan yang ada dalam form pendaftaran. Setelah
mendaftar, ada masa tunggu untuk memulai kegiatan, hingga akhirnya pada hari
Kamis tanggal 8 Juli 2021 ada pengumuman untuk kegiatan pertama dan pembukaan
pelatihan akan dilaksanakan secara virtual via zoom. Disebarlah flyer kegiatan
dengan foto narasumber yaitu Prof. Dr. Ersis Warmansyah Abbas, M.Pd. Saat
melihat foto beliau, saya merasa sangat
familiar dan sering melihat beliau diberbagai media. Saat itu yang melekat
diingatan saya beliau adalah penulis yang terkenal dan pasti sangat menginspirasi.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya memalukan bagi saya lulusan ULM, yaitu
saya baru tahu beliau adalah salah satu
dosen di ULM.
Sampailah pada malam sabtu, 9 Juli 2021 pukul
19.30 Wita, kegiatan dimulai dengan peresmian pembukaan kegiatan. Akhirnya sampai
pada kegiatan inti, narasumber menyampaikan materi. Di awal penyampaian materi
saya merasa tegang, karena dipikiran saya muncul bahwa beliau adalah dosen yang
sangat tegas. Saya sangat setuju dengan prinsip beliau tentang kedisiplinan,
mulailah acara sesuai dengan jadwalnya, tidak perlu menunggu peserta. Kita
tentunya sangat sering menemui kegiatan yang dijadwalkan pukul 09.00 Wita tetapi
baru dimulai pukul 10.00 Wita karena
menunggu peserta yang biasa menggunakan jam karet. Sangat sering saya harus
menunggu lebih dari 1 jam untuk suatu kegiatan. Bentuk toleransi terhadap
keterlambatan inilah sebenarnya pemicu budaya terlambat di negara kita.
Seandainya setiap acara dimulai tepat sesuai jadwal, pastinya peserta yang
mengikuti akan berlomba-lomba datang lebih awal. Saya jadi teringat ucapan seorang
guru, “lebih baik menunggu 1 jam daripada terlambat 1 menit.”
Prof.
Memaparkan mengenai menulis itu mudah. Menulis adalah kegiatan wajib
sehari-hari kita. Saat kita mengunjungi suatu tempat, misalnya pantai. Maka kita
harus menghadirkan mata kita untuk melihat pantai bukan membayangkan gunung.
Saat kita mendengar suara ombak, maka kita menghadirkan indera pendengar kita
untuk merekamnya. Semua indera kita harus dihadirkan, demikian juga dengan
pikiran, perasaan dan jiwa kita. Ketika semua sudah kita rekam di memori kita,
maka secepatnya kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Kita tidak boleh merasa
takut kalau tulisan kita itu salah, selama kita menulis dengan kejujuran maka
tidak ada tulisan yang salah. Tulis dan tulis saja apa yang telah indera kita
tangkap. Biarkan setiap pengalaman melekat pada diri kita sehingga kita tidak
merasa sulit untuk menuliskannya. Semua berawal dari input yang baik, berlanjut
pada proses, dan berakhir dengan hasil yang sesuai harapan. Ketika hasil yang
kita harapkan tidak sesuai harapan, jangan putus semangat, kita perlu untuk
terus belajar.
Sepanjang
pemaparan beliau dan sesi menjawab pertanyaan, saya menyadari bahwa banyak hal
yang dekat dan sering kita gunakan dalam kehidupan sehari - hari tidak kita
kenal dengan baik. Itulah penyebabnya saat kita menulis, selalu ada saja alasan
untuk berhenti, selalu saja ada alasan untuk tidak menulis kembali. Semua itu
ternyata karena input kita yang sangat kurang, kita merasa sudah memiliki
pengetahuan, sehingga merasa tidak perlu mencari mengenai hal-hal sederhana.
Padahal suatu tulisan yang bermakna seringkali datang dari hal sederhana. Semua
pemaparan pada kegiatan pertama ini menjadi suntikan semangat bagi saya untuk
bisa menulis dan terus menulis. Sematkan dalam pikiran, “menulis itu mudah”.
Maka semuanya akan terasa mudah. Jadi tidak sabar dengan kegiatan berikutnya.
Dan ternyata Prof. Ersis sangat menyenangkan, penjelasan beliau mudah dipahami
karena selalu mengambil contoh yang dekat dengan diri kita, kita bisa langsung
melihat objek tanpa harus membayangkan dalam angan-angan. Selain mendapat
pengetahuan mengenai kepenulisan, dari kegiatan ini saya mendapatkan cara
mengajar yang menyenangkan. Terima kasih Prof.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar