TULISLAH JANGAN TAKUT
(Resume kegiatan kedua)
Dewi Nur Utami Fithria
Rabu, 14 Juli
2021 pertemuan kedua dilaksanakan pada pukul 20.00 wita dengan narasumber bang
Ali Syamsuddin Arsy (Bang Asa). Ini pertama kalinya berinteraksi langsung
dengan beliau. Kesan luar biasa memang sangat pantas disematkan pada beliau.
Benar yang disampaikan oleh Bang Asa, seringkali kita fokus pada karya apa yang
kita tulis dan selalu menilai sendiri hasil tulisan kita. Rasa percaya diri
yang kurang semakin berkurang saat kita langsung menilai tulisan kita jelek.
Seharusnya yang menilai karya bukan diri sendiri, tetapi orang lain.
Bang Asa mengajak
untuk memulai menulis, tulis dan tulis terus secara intens. Mulailah menulis
dari benda-benda di sekitar kita, sebagai contoh dapur kita, banyak benda yang
bisa kita ceritakan dari dapur kita sendiri. Menulis tidak hanya terpaku pada
“aku”, mulailah untuk membuka diri dengan membuat tulisan-tulisan dari sekitar
kita. Tantanglah diri sendiri untuk menulis setiap hari dengan jumlah halaman
tertentu, tingkatkan terus target kita menulis. Saat kita mulai bisa
menerbitkan satu buku, maka tingkatkan target secara bertahap.
Pada kegiatan ini
bang Asa menantang kami menulis, dimulai dengan kata “BATU” sebanyak empat
baris. Saya menulis sebagai berikut:
Batu-batu yang
terhampar di halaman sekolah menjadi saksi kerinduan. Sama seperti sekolah
lainnya, sekolah dasar di daerah pesisir Pantai Asmara ini, kini menanggung
rindu pada langkah kaki anak bangsa, gelak tawa dan asyiknya kegiatan belajar.
Kini semua masih sunyi, keceriaan berpindah ke dinding-dinding rumah
masing-masing. Doa terus dipanjatkan, agar semua bisa kembali seperti biasanya,
batu-batu ikut berdoa.
Bang Asa juga menantang kami menulis sebanyak empat
baris mengenai hal yang kami ingat mengenai di sekitar Tanah Laut. Saya menulis
sebagai berikut:
Hamparan
birunya laut menjadi pesona dari tanah laut. Permadani abu-abu juga permadani
hijau menambah daya pikatnya. Buah-buah segar, sayur mayur menjadi kebanggaan
warganya. Ramah tamah penduduknya mengundang banyak pendatang untuk menetap.
Tanah laut menjanjikan banyak kebahagiaan, ketenangan, dan kenyamanan. Teruslah
berjaya dalam pesonamu.
Bang Asa melemparkan pertanyaan, “Apa yang sudah kita
tulis selama ini tentang Tanah Laut?’. Bang Asa menantang kembali agar kami
menulis dengan diawali kata “Tanah Laut”. Dan saya menulis sebagai berikut:
Tanah Laut kota
kebanggaan. Aku datang sebelum mengenalmu. Melepaskan dahaga dengan segarnya
air dari bumimu. Aku tumbuh dalam pelukanmu, kau saksi perjalanan yang tertatih
menata dan merangkai cita-cita. Dengan penuh rasa cinta kau memberikan berbagai
jalan dan kemudahan bagi kehidupan anak-anak negeri. Tanah Laut berjuta mimpi
akan terus diwujudkan.
Bang Asa kembali menantang kami untuk membuat sebuah
puisi mengekspresikan perasaan masing-masing.
Pertemuan Terlarang
Dewi Nur Utami
Ruang ini sunyi, tak bertuan
Gelak tawa, suara menggemaskan lama tak terdengar
Sekuat apapun ingin, masih terlarang
Sebesar apapun rindu, tak berani menanggung
Batu-batu dihalaman menjadi saksi kerinduan
Pada jejak kaki-kaki mungil yang terbiasa kesana kemari
Menikmati seluruh penjuru
Mengukir cerita dalam memori sendiri
Benda pipih berlayar gelap
Menjadi jembatan penyalur rindu
Celoteh kini hanya pada deretan huruf demi huruf disana
Apa jadi saat dia belum makan, rindu tak bisa terhubung
Sekali dua kali menatap wajah-wajah imut menggemaskan
Mendengarkan celoteh mereka dari layar pipih
Berharap mengurangi rindu
Walau nyatanya semakin menggunung pilu
Tenang sayang, semua demi kalian
Bersabar dengan rindu
Kita panjatkan selalu bait demi bait doa
agar pertemuan nyata tak jadi larangan
Jorong, 15 Juli 2021
Bionarasi penulis:
Dewi Nur utami, Lahir di Garut, 06 Mei 1989. Seorang Guru di UPTD SDN
Muara Asam-Asam, Kabupaten Tanah Laut. Karya sastra yang telah dibukukan antara
lain Love Lines (Antologi puisi hasil
lomba #Unexpectedlove ellunar, 2017), Derai-Derai Lampu (Antologi Juara
Lomba Puisi Cinta WR Academy, 2020), Tears Of Love (Antologi Cerpen Batch 26
Kelompok 43 KMO Indonesia, 2020), Guratan Pena Banua (Antologi Cerpen Bubuhan
banjar, 2021), Menerabas Terali Jiwa (Antologi Cerpen Ikatan Penulis Tanah
Laut, 2021), dan 8 buku Antologi lainnya. Bisa dihubungi melalui email : dewifithria.spd@gmail.com dan FB
Dewi Nur Utami.
Selanjutnya bang
Asa menantang merangkai tiga kata yang terdiri dari kata benda, kata kerja dan
kata sifat. Saya menulis Gawai
Mengurangi Rindu menjadi Rindu
dikurangi Gawai menjadi kurangnya
Rindu oleh gawai. Hal ini merupakan trik menentukan diksi pada puisi.
Pemilihan diksi memang memerlukan keberanian. Berlatih memainkan posisi kata
sebagai sandingan kata yang lain. Selain itu kurangi penggunaan kata ganti atau
kata petunjuk, serta kurangi kata hubung.
Demikian hasil kegiatan pertemuan kedua Tala Writing
Supercamp, terima kasih Bang Asa atas tantangan-tantangan yang diberikan,
memantapkan niat untuk konsisten menulis setiap hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar